Otak Kanan Dan Otak Kiri

Tak bisa dipungkiri kalau aktivitas utama ngeblog itu ya menulis. Dan menurut saya menulis itu pekerjaan yang gampang-gampang susah (atau susah-susah gampang). Kalau lagi in the mood alias kebanjiran ide, kita bisa menulis kayak orang kesetanan. Tapi begitu mandek, bisa-bisa sebulan ga ada nulis postingan. Mas Jonru dalam bukunya yang berjudul “Menerbitkan Buku Itu Gampang” memberi sebuah tips yang menurut saya oke banget. Gunakan otak kanan dulu, baru otak kiri.

Seperti yang kita ketahui, otak kanan merupakan gudangnya kreativitas dan spontanitas. Sedangkan otak kiri adalah otak yang suka menganalisis dan banyak pertimbangan. Jadi ketika mulai menulis biarkan otak kanan dulu yang bekerja. Jangan menggunakan aturan ini itu, musti gini musti gitu. Tak perlu memperhatikan tata bahasa dan aturannya. Yang penting tulis dulu sampai selesai. Setelah itu istirahatkan otak kanan dan barulah giliran otak kiri yang bekerja. Mulailah memperhatikan tata bahasa yang sesuai Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dan bacalah keseluruhan tulisan untuk memperhatikan hubungan antar kalimat secara utuh.

Mengetes Dominasi Otak Kanan atau Otak Kiri

Saya dapat ini dari milis IYE, ceritanya sih gambar ini diperlihatkan di kantor si penulis email. Terus orang – orang pada lihat. Sebagian besar cowok lihatnya gambar ini muter ke kanan (searah jarum jam). Tetapi yang cewek sebagian besar melihat gambar ini muter ke kiri (berlawanan arah jarum jam).

Dikatakan juga kalau beberapa orang bisa mengganti sudut pandangnya, sehingga kadang bisa melihat dia berputar ke kanan, dan kadang dia berputar ke kiri. Bagaimana dengan anda?

Di email tersebut juga disebutkan bawah jika jika kita melihatnya berputar ke kanan, berarti otak kita yang dominana adalah kanan, jika melihatnya berputar ke kiri berarti otak kita dominan kiri. Benar atau tidak itu saya sendiri enggak ngerti.. :(


Peringatan: Gambar ini sedikit terlihat Cabul


Gambar:



Putar Otak Kanan otak Kiri







Akankah Blackberry Di Blokir?

Kamis, 5 Agustus 2010 17:50 WIB




Suku Korowai, Papua Nugini

Banyak sekali suku-suku yang ada di dunia ini dan masing-masing mempunyai kebudayaan nya sendiri. Suku Korowai mempunyai populasi 3.000 orang ini adalah merupakan salah satu suku paling aneh di dunia.

Suku ini ada di Papua Nugini dan kalau melihat foto-foto dibawah ini dan membaca artikel ini, dijamin anda tidak akan mau tinggal bertetangga dengan suku ini. Kecuali anda juga Suku Korowai sendiri. Budaya suku Korowai ini masih terbelakgn karena mereka masih tetap terisolasi dari peradaban modern. Bahkan suku iini juga ada yang kanibal alias memakan daging manusia.

Mereka membangun rumah mereka di atas pohon-pohon yang sangat tinggai agar selamat dari serangan binatang.

Foto-foto dibawah ini memperlihatkan bagaimana mereka membangun rumah mereka dan juga tradisi-tradisi aneh suku Korowai tersebut.


Korowai


Korowai


Korowai


Korowai

Korowai

Korowai

Korowai

Korowai

Korowai

Korowai



Hanya Di China, Gambar

Negara dengan penduduk terbesar (1,5 milyar jiwa) di dunia ini memang menarik untuk terus dikaji. Bayangkan dengan kekayaan budaya yang telah tumbuh subur semenjak 5 ribu tahun yang lalu, Cina atau Tiongkok pasti punya banyak sisi-sisi menarik di mata orang asing, tak terkecuali kita. Yang kita tahu dari saudara tua ini sayangnya terbatas pada pola-pola stereotip yang sempit sehingga kita cenderung memberi stempel yang cenderung hitam putih pada bangsa besar ini.

Kini dengan prestasi ekonominya sebagai kekuatan ekonomi nomer dua dunia, segala aspek tentang Cina sebenarnya patut kita kaji. Banyak pakar sepakat abad ini milik Asia, dan salah satu budaya dominan yang akan banyak mewarnainya adalah budaya Cina. Namun menariknya, karena Cina belum lama beranjak dari statusnya sebagai negara berkembang, banyak hal yang bisa kita temui di Cina rasa-rasanya juga kerap kita dapati di Indonesia.






































Penderita Sindrom, Bisa Tidur Selama 13 Hari

Remaja di Inggris itu menderita Sindrom Kleine-Levin alias “Penyakit Putri Tidur”

Cantik dan cerdas. Itulah kesan pertama yang ditujukan bagi seorang remaja asal Inggris, Louisa Ball. Namun gadis berusia 15 tahun ini ternyata memiliki kebiasaan yang cukup menggelisahkan, yaitu tidur selama berhari-hari.

Menurut laman stasiun televisi NBC, Louisa kemungkinan mengidap suatu sindrom bernama Kleine-Levin, yang populer disebut “Penyakit Putri Tidur.” Tak heran, bila Louisa tahan terlelap bahkan hingga selama 13 hari.

Ibu Louisa, Lottie, mengungkapkan bahwa putrinya itu mulai mengalami kebiasaan yang tak wajar sejak setahun yang lalu. Awalnya, dia menderita gejala mirip flu. Namun setelah menderita gejala itu, Louisa sering diketahui tidur dalam jangka waktu yang sangat lama.

Selama terlelap, Louisa tampak tidak terganggu oleh guncangan atau dorongan. “Kami tidak mampu membangunan dia,” kata Lottie saat diwawancara NBC dalam suatu acara yang ditayangkan Jumat pekan lalu, 5 Februari 2010.

Kebiasaan itulah yang membuat Lottie resah. Pasalnya, akibat tidur dalam jangka waktu lama, Louisa justru sering melewatkan jam makan. “Saya sering berkata kepada dia, ‘Louisa, ayo bangun bangun. Makanlah dulu.’ Dia tampaknya tidak punya tenaga hanya untuk membuka kelopak matanya,” kata Lottie.

Louisa kini lebih sering menghabiskan waktu untuk tidur, baik itu saat liburan keluarga, saat rehat latihan menari, bahkan pada saat ujian sekolah.

Dia sendiri juga mengaku resah karena bisa tidur berlama-lama. “Saya sudah begitu kesal karena mengalami penyakit ini, sudah tentu banyak hal yang telah saya lewatkan,” kata Louisa seperti dikutip harian News of The World akhir Januari lalu. “Saya tidak bisa ingat apapun saat bangun. Saya pun berpikir, ‘Mengapa ini terjadi pada diri saya’,” lanjut dia.

Sejak tahun lalu, Louisa diperiksa tim dokter di Rumah Sakit St. George’s di Tooting, Inggris. Menurut diagnosa dokter, dia menderita Sindrom Kleine-Levin, yang membuat penderita bisa tertidur dalam jangka waktu yang lama. Penderita sempat terjaga untuk beberapa saat, namun akan merasa linglung dan tidak benar-benar sadar.

Di penjuru dunia, penderita sindrom itu diperkirakan sebanyak 1.000 orang. Menurut dokter, Penyakit Putri Tidur itu sering menyerang remaja, terutama berusia antara 8 hingga 12 tahun. Namun, sindrom itu bisa hilang dengan sendirinya.

Tim dokter sejauh tidak tahu persis apa penyebabnya dan bagaimana menyembuhkan penderita Penyakit Putri Tidur. Kini, Louisa hanya bisa berharap bahwa sindrom itu bisa segera hilang dengan sendirinya. “Saya berharap suatu hari nanti bisa terbebas dari masalah itu,” kata Louisa.

Teman Kami