Agama Buddha

Agama Buddha lahir di negara India, lebih tepatnya lagi di wilayah Nepal sekarang, sebagai reaksi terhadap agama Brahmanisme. Sejarah agama Buddha mulai dari abad ke-6 SM sampai sekarang dari lahirnya Buddha Siddharta Gautama. Dengan ini, ini adalah salah satu agama tertua yang masih dianut di dunia. Agama Buddha berkembang dengan unsur kebudayaan India, ditambah dengan unsur-unsur kebudayaan Helenistik (Yunani), Asia Tengah, Asia Timur dan Asia Tenggara. Dalam proses perkembangannya, agama ini praktis telah menyentuh hampir seluruh benua Asia dan telah menjadi agama mayoritas di beberapa negara Asia seperti Thailand, Singapura, Kamboja, Myanmar, Taiwan, dsb. Pencetusnya ialah Siddhartha Gautama yang dikenal sebagai Gautama Buddha oleh pengikut-pengikutnya. Ajaran Buddha sampai ke negara Tiongkok pada tahun 399 Masehi, dibawa oleh seorang bhiksu bernama Fa Hsien. Masyarakat Tiongkok mendapat pengaruhnya dari Tibet disesuaikan dengan tuntutan dan nilai lokal.

Setiap aliran Buddha berpegang kepada Tripitaka sebagai rujukan utama karena dalamnya tercatat sabda dan ajaran sang hyang Buddha Gautama. Pengikut-pengikutnya kemudian mencatat dan mengklasifikasikan ajarannya dalam 3 buku yaitu Sutta Piṭaka (kotbah-kotbah Sang Buddha), Vinaya Piṭaka (peraturan atau tata tertib para bhikkhu) dan Abhidhamma Piṭaka (ajaran hukum metafisika dan psikologi).

Perlu ditekankan bahwa Buddha bukan Tuhan. Konsep ketuhanan dalam agama Buddha berbeda dengan konsep dalam agama Samawi dimana alam semesta diciptakan oleh Tuhan dan tujuan akhir dari hidup manusia adalah kembali ke surga ciptaan Tuhan yang kekal.

"Ketahuilah para bhikkhu bahwa ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak. Duhai para Bhikkhu, apabila tidak ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Diciptakan, Yang Mutlak, maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi para bhikkhu, karena ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu."

Ungkapan di atas adalah pernyataan dari Buddha yang terdapat dalam Sutta Pitaka, Udana VIII : 3, yang merupakan konsep Ketuhanan Yang Mahaesa dalam agama Buddha. Ketuhanan Yang Mahaesa dalam bahasa Pali adalah Atthi Ajatang Abhutang Akatang Asamkhatang yang artinya "Suatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan Yang Mutlak". Dalam hal ini, Ketuhanan Yang Maha Esa adalah suatu yang tanpa aku (anatta), yang tidak dapat dipersonifikasikan dan yang tidak dapat digambarkan dalam bentuk apa pun. Tetapi dengan adanya Yang Mutlak, yang tidak berkondisi (asamkhata) maka manusia yang berkondisi (samkhata) dapat mencapai kebebasan dari lingkaran kehidupan (samsara) dengan cara bermeditasi.

Dengan membaca konsep Ketuhanan Yang Maha Esa ini, kita dapat melihat bahwa konsep Ketuhanan dalam agama Buddha adalah berlainan dengan konsep Ketuhanan yang diyakini oleh agama-agama lain. Perbedaan konsep tentang Ketuhanan ini perlu ditekankan di sini, sebab masih banyak umat Buddha yang mencampur-adukkan konsep Ketuhanan menurut agama Buddha dengan konsep Ketuhanan menurut agama-agama lain sehingga banyak umat Buddha yang menganggap bahwa konsep Ketuhanan dalam agama Buddha adalah sama dengan konsep Ketuhanan dalam agama-agama lain.

Bila kita mempelajari ajaran agama Buddha seperti yang terdapat dalam kitab suci Tripitaka, maka bukan hanya konsep Ketuhanan yang berbeda dengan konsep Ketuhanan dalam agama lain, tetapi banyak konsep lain yang tidak sama pula. Konsep-konsep agama Buddha yang berlainan dengan konsep-konsep dari agama lain antara lain adalah konsep-konsep tentang alam semesta, terbentuknya Bumi dan manusia, kehidupan manusia di alam semesta, kiamat dan Keselamatan atau Kebebasan.

Di dalam agama Buddha tujuan akhir hidup manusia adalah mencapai kebuddhaan (anuttara samyak sambodhi) atau pencerahan sejati dimana roh manusia tidak perlu lagi mengalami proses tumimbal lahir. Untuk mencapai itu pertolongan dan bantuan pihak lain tidak ada pengaruhnya. Tidak ada dewa - dewi yang dapat membantu, hanya dengan usaha sendirilah kebuddhaan dapat dicapai. Buddha hanya merupakan contoh, juru pandu, dan guru bagi makhluk yang perlu melalui jalan mereka sendiri, mencapai pencerahan rohani, dan melihat kebenaran & realitas sebenar-benarnya.

Moral Buddha

Sebagai mana agama Islam dan Kristen ajaran Buddha juga menjunjung tinggi nilai-nilai kemoralan. Nilai-nilai kemoralan yang diharuskan untuk umat awam umat Buddha biasanya dikenal dengan Pancasila. Kelima nilai-nilai kemoralan untuk umat awam adalah:

  • Panatipata Veramani Sikkhapadam Samadiyami
  • Adinnadana Veramani Sikkhapadam Samadiyami
  • Kamesu Micchacara Veramani Sikhapadam
  • Musavada Veramani Sikkhapadam Samadiyami
  • Surameraya Majjapamadatthana Veramani Sikkhapadam Samadiyami

yang artinya:

  • aku bertekad akan melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup.
  • aku bertekad akan melatih diri menghindari pencurian/mengambil barang yang tidak diberikan.
  • aku bertekad akan melatih diri menghindari melakukan perbuatan asusila
  • aku bertekad akan melatih diri menghidari melakukan perkataan dusta
  • aku bertekad akan melatih diri menghindari makanan atau minuman yang dapat menyebabkan lemahnya kesadaran

Selain nilai-nilai moral di atas, agama Buddha juga amat menjunjung tinggi karma sebagai sesuatu yang berpegang pada prinsip sebab akibat. Kamma (bahasa Pali) atau Karma (bahasa Sanskerta) berarti perbuatan atau aksi. Jadi ada aksi atau karma baik dan ada pula aksi atau karma buruk. Saat ini, istilah karma sudah terasa umum digunakan, namun cenderung diartikan secara keliru sebagai hukuman turunan/hukuman berat dan lain sebagainya. Guru Buddha dalam Nibbedhika Sutta; Anguttara Nikaya 6.63 menjelaskan secara jelas arti dari kamma:

”Para bhikkhu, cetana (kehendak)lah yang kunyatakan sebagai kamma. Setelah berkehendak, orang melakukan suatu tindakan lewat tubuh, ucapan atau pikiran.”

Jadi, kamma berarti semua jenis kehendak (cetana), perbuatan yang baik maupun buruk/jahat, yang dilakukan oleh jasmani (kaya), perkataan (vaci) dan pikiran (mano), yang baik (kusala) maupun yang jahat (akusala).

Kamma atau sering disebut sebagai Hukum Kamma merupakan salah satu hukum alam yang berkerja berdasarkan prinsip sebab akibat. Selama suatu makhluk berkehendak, melakukan kamma (perbuatan) sebagai sebab maka akan menimbulkan akibat atau hasil. Akibat atau hasil yang ditimbulkan dari kamma disebut sebagai Kamma Vipaka.

Aliran Buddha

Ada beberapa aliran dalam agama Buddha:

  1. Buddha Theravada
  2. Buddha Mahayana: Zen
  3. Buddha Vajrayana

Buddha Mahayana


Patung Buddha Tian Tan. Vihara Po Lin, pulau Lantau, Hong Kong

Sutra Teratai merupakan rujukan sampingan penganut Buddha aliran Mahayana. Tokoh Kwan Im yang bermaksud "maha mendengar" atau nama Sansekertanya "Avalokiteśvara" merupakan tokoh Mahayana dan dipercayai telah menitis beberapa kali dalam alam manusia untuk memimpin umat manusia ke jalan kebenaran. Dia diberikan sifat-sifat keibuan seperti penyayang dan lemah lembut. Menurut sejarahnya Avalokitesvara adalah seorang lelaki murid Buddha, akan tetapi setelah pengaruh Buddha masuk ke Tiongkok, profil ini perlahan-lahan berubah menjadi sosok feminin dan dihubungkan dengan legenda yang ada di Tiongkok sebagai seorang dewi.

Penyembahan kepada Amitabha Buddha (Amitayus) merupakan salah satu aliran utama Buddha Mahayana. Sorga Barat merupakan tempat tujuan umat Buddha aliran Sukhavati selepas mereka meninggal dunia dengan berkat kebaktian mereka terhadap Buddha Amitabha dimana mereka tidak perlu lagi mengalami proses reinkarnasi dan dari sana menolong semua makhluk hidup yang masih menderita di bumi.

Mereka mempercayai mereka akan lahir semula di Sorga Barat untuk menunggu saat Buddha Amitabha memberikan khotbah Dhamma dan Buddha Amitabha akan memimpin mereka ke tahap mencapai 'Buddhi' (tahap kesempurnaan dimana kejahilan, kebencian dan ketamakan tidak ada lagi). Ia merupakan pemahaman Buddha yang paling disukai oleh orang Tionghoa.

Seorang Buddha bukannya dewa atau makhluk suci yang memberikan kesejahteraan. Semua Buddha adalah pemimpin segala kehidupan ke arah mencapai kebebasan daripada kesengsaraan. Hasil amalan ajaran Buddha inilah yang akan membawa kesejahteraan kepada pengamalnya.

Menurut Buddha Gautama , kenikmatan Kesadaran Nirwana yang dicapainya di bawah pohon Bodhi, tersedia kepada semua makhluk apabila mereka dilahirkan sebagai manusia. Menekankan konsep ini, aliran Buddha Mahayana khususnya merujuk kepada banyak Buddha dan juga bodhisattva (makhluk yang tekad "committed" pada Kesadaran tetapi menangguhkan Nirvana mereka agar dapat membantu orang lain pada jalan itu). Dalam Tipitaka suci - intipati teks suci Buddha - tidak terbilang Buddha yang lalu dan hidup mereka telah disebut "spoken of", termasuk Buddha yang akan datang, Buddha Maitreya .

Buddha Theravada

Aliran Theravada adalah aliran yang memiliki sekolah Buddha tertua yang tinggal sampai saat ini, dan untuk berapa abad mendominasi Sri Langka dan wilayah Asia Tenggara (sebagian dari Tiongkok bagian barat daya, Kamboja, Laos, Myanmar, Malaysia, Indonesia dan Thailand) dan juga sebagian Vietnam. Selain itu populer pula di Singapura dan Australia.

Gramatika

Theravada berasal dari bahasa Pali yang terdiri dari dua kata yaitu thera dan vada. Thera berarti sesepuh khususnya sesepuh terdahulu , dan vada berarti perkataan atau ajaran. Jadi Theravada berarti Ajaran Para Sesepuh.

Istilah Theravada muncul sebagai salah satu aliran agama Buddha dalam Dipavamsa, catatan awal sejarah Sri Lanka pada abad ke-4 Masehi. Istilah ini juga tercatat dalam Mahavamsa, sebuah catatan sejarah penting yang berasal dari abad ke-5 Di yakini Theravada merupakan wujud lain dari salah satu aliran agama Buddha terdahulu yaitu Sthaviravada (Bahasa Sanskerta: Ajaran Para Sesepuh) , sebuah aliran agama Buddha awal yang terbentuk pada Sidang Agung Sangha ke-2 (443 SM). Dan juga merupakan wujud dari aliran Vibhajjavada yang berarti Ajaran Analisis (Doctrine of Analysis) atau Agama Akal Budi (Religion of Reason).

Sejarah

Sejarah Theravada tidak lepas dari sejarah Buddha Gotama sebagai pendiri agama Buddha. Setelah Sang Buddha parinibbana (543 SM), tiga bulan kemudian diadakan Sidang Agung Sangha (Sangha Samaya).

Diadakan pada tahun 543 SM (3 bulan setelah bulan Mei), berlangsung selama 2 bulan Dipimpin oleh Y.A. Maha Kassapa dan dihadiri oleh 500 orang Bhikkhu yang semuanya Arahat. Sidang diadakan di Goa Satapani di kota Rajagaha. Sponsor sidang agung ini adalah Raja Ajatasatu. Tujuan Sidang adalah menghimpun Ajaran Sang Buddha yang diajarkan kepada orang yang berlainan, di tempat yang berlainan dan dalam waktu yang berlainan. Mengulang Dhamma dan Vinaya agar Ajaran Sang Buddha tetap murni, kuat, melebihi ajaran-ajaran lainnya. Y.A. Upali mengulang Vinaya dan Y.A. Ananda mengulang Dhamma.

Sidang Agung Sangha ke-2, pada tahun 443 SM , dimana awal Buddhisme mulai terbagi menjadi 2. Di satu sisi kelompok yang ingin perubahan beberapa peraturan minor dalam Vinaya, di sisi lain kelompok yang mempertahankan Vinaya apa adanya. Kelompok yang ingin perubahan Vinaya memisahkan diri dan dikenal dengan Mahasanghika yang merupakan cikal bakal Mahayana. Sedangkan yang mempertahankan Vinaya disebut Sthaviravada.

Sidang Agung Sangha ke-3 (313 SM), Sidang ini hanya diikuti oleh kelompok Sthaviravada. Sidang ini memutuskan untuk tidak merubah Vinaya, dan Moggaliputta Tissa sebagai pimpinan sidang menyelesaikan buku Kathavatthu yang berisi penyimpangan-penyimpangan dari aliran lain. Saat itu pula Abhidhamma dimasukkan. Setelah itu ajaran-ajaran ini di tulis dan disahkan oleh sidang. Kemudian Y.M. Mahinda (putra Raja Asoka) membawa Tipitaka ini ke Sri Lanka tanpa ada yang hilang sampai sekarang dan menyebarkan Buddha Dhamma di sana. Di sana ajaran ini dikenal sebagai Theravada.

Kitab Suci

Kitab Suci yang dipergunakan dalam agama Buddha Theravada adalah Kitab Suci Tipitaka yang dikenal sebagai Kanon Pali (Pali Canon). Kitab suci Agama Buddha yang paling tua, yang diketahui hingga sekarang, tertulis dalam Bahasa Pali, yang terbagi dalam tiga kelompok besar (yang disebut sebagai "pitaka" atau "keranjang") yaitu: Vinaya Pitaka, Sutta Pitaka, dan Abhidhamma Pitaka. Karena terdiri dari tiga kelompok tersebut, maka Kitab Suci Agama Buddha dinamakan Tipitaka (Pali).

Ajaran

Ajaran dasar dikenal sebagai Empat Kebenaran Mulia, meliputi:

  • Dukkha Ariya Sacca (Kebenaran Arya tentang Dukkha),

Dukha ialah penderitaan. Dukha menjelaskan bahwa ada lima pelekatan kepada dunia yang merupakan penderitaan. Kelima hal itu adalah kelahiran, umur tua, sakit, mati, disatukan dengan yang tidak dikasihi, dan tidak mencapai yang diinginkan.

  • Dukkha Samudaya Ariya Sacca (Kebenaran Ariya tentang Asal Mula Dukkha),

Samudaya ialah sebab. Setiap penderitaan pasti memiliki sebab, contohnya: yang menyebabkan orang dilahirkan kembali adalah adanya keinginan kepada hidup.

  • Dukkha Nirodha Ariya Sacca (Kebenaran Ariya tentang Terhentinya Dukkha),

Nirodha ialah pemadaman. Pemadaman kesengsaraan dapat dilakukan dengan menghapus keinginan secara sempurna sehingga tidak ada lagi tempat untuk keinginan tersebut.

  • Dukkha Nirodha Ariya Sacca (Kebenaran Ariya tentang Jalan yang Menuju Terhentinya Dukkha).

Marga ialah jalan kelepasan. Jalan kelepasan merupakan cara-cara yang harus ditempuh kalau kita ingin lepas dari kesengsaraan. Delapan jalan kebenaran akan dibahas lebih mendalam pada pokok pembahasan yang selanjutnya.

Inti ajaran Buddha menjelaskan bahwa hidup adalah untuk menderita. Jika di dunia ini tidak ada penderitaan, maka Buddha pun tidak akan menjelma di dunia. Semua hal yang terjadi pada manusia merupakan wujud dari penderitaan itu sendiri. Saat hidup, sakit, dipisahkan dari yang dikasihi dan lain-lain, merupakan wujud penderitaan seperti yang sudah dijelaskan diatas. Bahkan kesenangan yang dialami manusia, dianggap sebagai sumber penderitaan karena tidak ada kesenangan yang kekal di dunia ini. Kesenangan atau kegirangan bergantung kepada ikatannya dengan sumber kesenangannya itu, padahal sumber kesenangan tadi berada di luar diri manusia. Sumber itu tidak mungkin dipengang atau diraba oleh manusia, karena tidak ada sesuatu yang tetap berada. Semua penderitaan disebabkan karena kehausan. Untuk menerangkan hal ini diajarkanlah yang disebut pratitya samutpada, artinya pokok permulaan yang bergantungan. Setiap kejadian pasti memiliki keterkaitan dengan pokok permulaan yang sebelumnya. Ada 12 pokok permulaan yang menjadi fokus pratitya samutpada.

Ajaran tentang Delapan Jalan Kelepasan

Agar terlepas dari penderitaan mereka mereka harus melalui 8 jalan kebenaran yang dibagi menjadi 3 tahap bagian, yaitu:

Sradha / iman

1.Percaya yang benar (Samma ditthi). Sraddha atau iman yang terdiri dari “percaya yang benar” ini memberikan pendahuluan yang terdiri dari: Percaya dan menyerahkan diri kepada Buddha sebagai guru yang berwenang mengajarkan kebenaran, percaya menyerahkan diri kepada dharma atau ajaran buddha, sebagai yang membawanya kepada kelepasan, dan percaya setelah menyerahkan diri kepada jemaat sebagai jalan yang dilaluinya. Sila yaitu usaha untuk mencapai moral yang tinggi

2.Maksud yang benar (Samma sankappa), merupakan hasil “percaya yang benar” yakin bahwa jalan petunjuka budha adalah jalan yang benar

3.Kata-kata yang benar (Samma vaca), maksudnya orang harus menjauhkan diri dari kebohongan dan membicarakan kejahatan orang lain, mengucapkan kata-kata yang kasar, serta melakukan percakapan yang tidak senonoh.

4.Perbuatan yang benar (Samma kammanta), maksudnya bahwa dalam segala perbuatan orang tak boleh mencari keuntungan sendiri.

5.Hidup yang benar (Sama ajiva), maksudnya secara lahir dan batin orang harus murni atu bebas dari penipuan diri

6.Usaha yang benar (Samma vayama), maksudnya seperti pengawasan hawa nafsu agar jangan sampai terjadi tabiat-tabiat yang jahat.

7.Ingatan yang benar (Samma sati), maksudnya pengawasan akal, rencana atau emosi yang merusak kesehatan moral Semadi

8.Semadi yang benar (Samma samadhi) Semadi itu sendiri terbagi menjadi 2 bagian yaitu persiapan atau upcara semadi dan semadinya sendiri. Persiapan atau upacara semadi ini maksudnya kita harus merenungi kehidupan dalam agamannya seperti 7 jalan kebenaran yang dibahas tadi dengan 4 bhawana,yaitu: metta (persahabatan yang universal), karuna (belas kasih yang universal), mudita (kesenangan dalam keuntungan dan akan segala sesuatu), dan upakkha (tidak tergerak oleh apa saja yang menguntungkan diri sendiri, teman, musuh dan sebagainya. Sesudah merenungkan hal-hal tersebut barulah masuk kedalam semadi yang sebenarnya dalam 4 tingkatan yaitu: mengerti lahir dan batinnya, mendapatkan damai batiniahnya, menghilangkan kegirangannya sehingga menjadi orang yang tenang, sampai akhirnya sukha dan dukha lenyap dari semuanya, dan rasa hatinya disudikan. Dengan demikianlah orang sampai pada kelepasan dari penderitaan.

Secara umum sama dengan aliran agama Buddha lainnya, Theravada mengajarkan mengenai pembebasan akan dukkha (penderitaan) yang ditempuh dengan menjalankan sila (kemoralan), samadhi (konsentrasi) dan panna (kebijaksanaan).

Agama Buddha Theravada hanya mengakui Buddha Gotama sebagai Buddha sejarah yang hidup pada masa sekarang. Meskipun demikian Theravada mengakui pernah ada dan akan muncul Buddha-Buddha lainnya.

Dalam Theravada terdapat 2 jalan yang dapat ditempuh untuk mencapai Pencerahan Sempurna yaitu Jalan Arahat (Arahatship) dan Jalan Kebuddhaan (Buddhahood).

Hari Raya

Terdapat empat hari raya besar dalam Agama Buddha. Namun satu-satunya yang dikenal luas masyarakat adalah Hari Raya Trisuci Waisak, sekaligus satu-satunya hari raya umat Buddha yang dijadikan hari libur nasional Indonesia setiap tahunnya.

Waisak

Penganut Buddha merayakan Hari Waisak yang merupakan peringatan 3 peristiwa. Yaitu, hari kelahiran Pangeran Siddharta (nama sebelum menjadi Buddha), hari pencapaian Penerangan Sempurna Pertapa Gautama, dan hari Sang Buddha wafat atau mencapai Nibbana/Nirwana. Hari Waisak juga dikenal dengan nama Visakah Puja atau Buddha Purnima di India, Vesak di Malaysia dan Singapura, Visakha Bucha di Thailand, dan Vesak di Sri Lanka. Nama ini diambil dari bahasa Pali "Wesakha", yang pada gilirannya juga terkait dengan "Waishakha" dari bahasa Sanskerta

Kathina

Hari raya Kathina merupakan upacara persembahan jubah kepada Sangha setelah menjalani Vassa. Jadi setelah masa Vassa berakhir, umat Buddha memasuki masa Kathina atau bulan Kathina. Dalam kesempatan tersebut, selain memberikan persembahan jubah Kathina, umat Buddha juga berdana kebutuhan pokok para Bhikkhu, perlengkapan vihara, dan berdana untuk perkembangan dan kemajuan agama Buddha.

Asadha

Kebaktian untuk memperingati Hari besar Asadha disebut Asadha Puja / Asalha Puja. Hari raya Asadha, diperingati 2 (dua) bulan setelah Hari Raya Waisak, guna memperingati peristiwa dimana Buddha membabarkan Dharma untuk pertama kalinya kepada 5 orang pertapa (Panca Vagiya) di Taman Rusa Isipatana, pada tahun 588 Sebelum Masehi. Kelima pertapa tersebut adalah Kondanna, Bhadiya, Vappa, Mahanama dan Asajji, dan sesudah mendengarkan khotbah Dharma, mereka mencapai arahat. Lima orang pertapa, bekas teman berjuang Buddha dalam bertapa menyiksa diri di hutan Uruvela merupakan orang-orang yang paling berbahagia, karena mereka mempunyai kesempatan mendengarkan Dhamma untuk pertama kalinya. Selanjutnya, bersama dengan Panca Vagghiya Bhikkhu tersebut, Buddha membentuk Arya Sangha Bhikkhu(Persaudaraan Para Bhikkhu Suci) yang pertama (tahun 588 Sebelum Masehi ). Dengan terbentuknya Sangha, maka Tiratana (Triratna) menjadi lengkap. Sebelumnya, baru ada Buddha dan Dhamma (yang ditemukan oleh Buddha).

Tiratana atau Triratna berarti Tiga Mustika, terdiri atas Buddha, Dhamma dan Sangha. Tiratana merupakan pelindung umat Buddha. Setiap umat Buddha berlindung kepada Tiratana dengan memanjatkan paritta Tisarana ( Trisarana ). Umat Buddha berlindung kepada Buddha berarti umat Buddha memilih Buddha sebagai guru dan teladannya. Umat Buddha berlindung kepada Dhamma berarti umat Buddha yakin bahwa Dhamma mengandung kebenaran yang bila dilaksanakan akan mencapai akhir dari dukkha. Umat Buddha berlindung kepada Sangha berarti umat Buddha yakin bahwa Sangha merupakan pewaris dan pengamal Dhamma yang patut dihormati.

Khotbah pertama yang disampaikan oleh Buddha pada hari suci Asadha ini dikenal dengan nama Dhamma Cakka Pavattana Sutta, yang berarti Khotbah Pemutaran Roda Dhamma. Dalam Khotbah tersebut, Buddha mengajarkan mengenai Empat Kebenaran Mulia( Cattari Ariya Saccani ) yang menjadi landasan pokok Buddha Dhamma.

Magha Puja

Hari Besar Magha Puja memperingati disabdakannya Ovadha Patimokha, Inti Agama Buddha dan Etika Pokok para Bhikkhu. Sabda Sang Buddha di hadapan 1.250 Arahat yang kesemuanya arahat tersebut ditasbihkan sendiri oleh Sang Buddha (Ehi Bhikkhu), yang kehadirannya itu tanpa diundang dan tanpa ada perjanjian satu dengan yang lain terlebih dahulu, Sabda Sang Buddha bertempat di Vihara Veluvana, Rajagaha. Tempat ibadah agama Buddha disebut Vihara.

Wikipedia bahasa Indonesia

Waspadai Korsleting Listrik

Di dalam instalasi listrik yang terpasang, terdapat dua sistem pengamanan yang disebut MCB (Miniature Circuit Breaker) dan sekring. Besar kapasitas arusnya disesuaikan dengan permintaan daya listrik oleh pelanggan. Secara keteknikan, bila terjadi hubungan pendek (korsleting) atau beban arus yang berlebih, dua pengaman tersebut akan trip (putus) dengan segera. Sehingga arus listrik tidak mengalir. Korsleting atau over load akan bisa berbahaya jika sistem dua pengaman dalam instalasi listrik tidak berfungsi dengan baik.

Dan yang perlu diketahui, pada saat terjadi korsleting, arus menjadi lebih besar dari arus nominalnya. Dengan tidak putusnya pengaman, maka percikan bunga api dari korsleting semakin besar. Percikan ini akan sangat berbahaya jika ternyata berdekatan dengan bahan-bahan yang mudah terbakar. Percikan bunga api pada lisrik dapat terjadi akibat sambungan ujung kabel satu dengan lainnya tidak kuat, tidak kencang, dan tidak tertutup isolator. Selain itu, kabel steker yang masuk ke stop kontak kendur. Tetapi, dua hal tersebut bukan termasuk korsleting. Ini yang biasanya menjadi kambing hitam bila terjadi kebakaran.

Untuk mencegah agar rumah atau tempat usaha terhindar dari bahaya kebakaran akibat listrik, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan. Pertama, jangan melakukan perbuatan ilegal untuk memanfaatkan arus listrik yang sudah dipasang oleh PLN, misalnya dengan merusak kWh Meter dan MCB yang sudah tersegel.

Kedua, bila menambah pemasangan instalasi listrik di dalam rumah atau tempat usaha, hendaknya dikerjakan oleh orang yang berkompeten di bidangnya, dengan memperhatikan kualitas penampang kabel. Ini harus disesuaikan dengan beban peralatan listrik yang akan digunakan.

Kemudian bila menyambung pada kabel instalasi listrik tambahan, harus kuat dan tertutup oleh isolator/isolasi dengan baik. Dalam memilih bahan dan komponen listrik, carilah yang berkualitas, sehingga steker dan stop kontak pada saat terhubung tidak longgar dan menyebabkan percikan bunga api.

Bila MCB rusak, lebih baik menghubungi petugas PLN terdekat untuk minta ganti MCB yang baru. Ini adalah bagian dari kewajiban PLN untuk menggantinya. Langkah aman selanjutnya adalah, usahakan bagian kontak atau sambungan listrik jangan sampai terkena air atau berdekatan dengan bahan yang mudah terbakar. Kemudian jika meninggalkan rumah atau tempat usaha, matikan peralatan listrik yang tidak diperlukan.

Yang tak kalah penting, bila pada instalasi listrik belum terpasang grounding atau arde dengan baik, mintalah kepada petugas atau rekanan PLN untuk dipasangkan grounding milik pelanggan.

Tips Bila Terjadi Korsleting Listrik:
1. Matikan semua sakelar dan alat2 elektronik,spt lampu,televisi,tape,dll.
2. Jangan langsung menaikan sekering saat terjadi korsleting karena bisa menyebabkan arus pendek listrik yang mengakibatkan kebakaran.
3. Setelah sakelar dimatikan,barulah naikan sekering untuk menghidupkan listrik.
4. Nyalakan sakelar dan barang elektronik satu persatu.Dengan begitu bisa ditemukan barang elektronik yang menjadi penyebab listrik korsleting.
5. Sebelum diperbaiki jangan nyalakan barang elektronik yang bermasalah.


Empat Alasan Tak Perlu Menikahi Pria Kaya

Liburan di pulau eksotis, makan malam mewah, hadiah cincin berlian memang tampak sangat menggiurkan. Apalagi jika diberikan oleh pasangan.

Menjalani hubungan dengan pria kaya memang tidak ada salahnya. Tetapi, ada keunggulan lain yang bisa Anda dapatkan jika berkencan dengan pria yang biasa saja atau tidak terlalu kaya. Bahkan, menjalin hubungan dengan pria biasa saja membuat Anda lebih bahagia.

"Pria yang tidak terlalu memiliki banyak uang sebenarnya lebih bisa membuat wanita bahagia. Hal itu karena uang dan status yang tinggi sering memicu ketidaksetiaan dan perilaku negatif lainnya pada pria," kata Adam Galinsky, Ph.D., profesor manajemen dan organisasi dari Northwestern University, Amerika Serikat, seperti dikutip dari Womenshealthmag.com.

Jangan selalu menjadikan materi menjadi tolak ukur mencari pasangan. Karena ada empat 'keuntungan' yang bisa Anda dapatkan jika menjalin hubungan dengan pria yang tak terlalu kaya.

1. Lebih setia

Penelitian menunjukan pria yang pendapatannya tidak terlalu besar risiko berselingkuhnya lebih kecil. Lalu, pria kaya cenderung munafik dalam hal perselingkuhan.

"Pria yang statusnya tinggi cenderung selingkuh, tetapi mereka dengan mudahnya menghakimi orang lain yang melakukan perselingkuhan karena merasa memiliki banyak uang dan kekuasaan," kata Galinsky.

2. Lebih sopan

Menurut laporan dalam Journal Psychological Science, pria yang pendapatannya rendah hingga menengah lebih sopan daripada pria kaya, ketika mereka bertemu orang baru. Hal itu diketahui peneliti ketika menyaksikan pria kaya dan pria biasa berkenalan dengan orang asing.

Pria yang biasa saja tertawa dan membuat kontak mata lebih banyak daripada pria kaya. Si kaya justru melakukan hal tidak sopan seperti sibuk sendiri, mencoret-coret, bahkan memperbaiki rambut mereka.

"Pria dengan sedikit uang mencoba untuk bersosialisasi lebih karena hubungan sosial baginya adalah ketrampilan untuk bertahan hidup. Lalu pria kaya mungkin mengganggap bahwa mereka tidak membutuhkan kenalan baru," kata Dacher Keltner, Ph.D., penulis buku "Born to Be Good".

3. Lebih mendukung pasangan

Riset yang dipublikasikan dalam Journal of Applied Psychology mengungkap kalau pria kaya terlihat lebih seksi daripada pria yangtak terlalu kaya. Tetapi dalam hal mendukung dan membantu pasangannya, pria yang terlalu kaya justru jagoannya. Mereka tidak segan untuk membantu istrinya membersihkan rumah, memandikan anak, memasak dan tugas rumah tangga lainnya. Hal ini pun bisa menjadi sangat seksi di mata istri. Saling mendukung bisa membuat pasangan menjadi lebih bahagia.

4. Lebih mengagumkan saat bercinta

Pria yang tak terlalu kaya selalu mencoba memuaskan hasrat seksual pasangannya dengan segala cara, hal itu menurut Bethany Marshall, Ph. D., penulis buku 'Deal Breakers'.

"Pria akan melakukan segala usaha untuk mendapatkan hati pasangannya agar tidak pergi meninggalkannya. Jika ia tidak bisa memberikan materi berlimpah, ia akan berusaha untuk memuaskan hasrat seksual pasangannya dengan segala cara," kata Bethany.


Menghilangkan Bau Apek Batik

Ambil air dalam ember, beri teh sebanyak satu sendok makan, rendam batik dalam air tersebut selama satu hari. Kemuadian angkat kain, jemur ditempat yang teduh. Niscaya kain batik anda akan berbau harum.


Bangsa Viking

Dari 8 sampai abad 11, Viking meninggalkan jejak mengerikan pada bagian-bagian dunia yang mereka taklukkan dalam tujuan mereka mencari tanah dan kejayaan. Viking meliputi wilayah Swedia, Denmark dan Norwegia. Viking menggunakan perahu panjang untuk menyerang permukiman dari Kepulauan Inggris dan Eropa pesisir.

Vikings telah tinggal di tanah Skandinavia ini selama lebih dari seribu tahun sebagai petani dan pembuat kapal. Namun karena populasi meningkat, lahan pertanian yang dapat dikerjakan semakin langka dan mencari tanah baru bukanlah budaya mereka, tapi untuk bertahan hidup. Akibatnya, pada akhir abad ke-8 Vikings memulai serangannya di sepanjang pantai utara tanah Eropa, mencari harta dan budak. Selama bertahun-tahun, banyak informasi yang diketahui tentang Viking berasal dari catatan tertulis orang-orang yang menyaksikan atau selamat dari serangan tersebut. Kengerian digambarkan telah dikaitkan sebagai status legendaris penguasa lautan ini.

Disebut barbar dari utara, Viking juga navigator yang sangat baik, pembuat kapal, pengrajin dan pedagang. Budaya masyarakat mereka termasuk yang rumit serta mitologi yang bagus seperti halnya dalam hal cerita dan mitos. Viking tidak hanya menjarah, mereka juga mengeksplorasi dan menemukan tempat-tempat seperti Islandia, Greenland dan Newfoundland. Sementara awalnya mereka meninggalkan jejak pada tempat yang mereka taklukkan, mereka pun mahir berasimilasi dan sering sangat dipengaruhi oleh daerah yang mereka diduduki.

Dalam budaya mereka yang turun-temurun, masyarakat Viking memiliki tiga tingkatan; bangsawan, merdeka dan budak. Kelas bangsawan ini terdiri dari pemimpin lokal yang memerintah atas daerah-daerah kecil. Seiring waktu, pemimpin daerah menjadi raja-raja yang lebih besar sebagaimana area yang lebih kecil digabungkan atau ditaklukkan sampai akhirnya Swedia, Norwegia dan Denmark masing-masing memiliki raja mereka sendiri. Kelas merdeka terdiri dari pemilik tanah, petani, pengrajin, prajurit dan pedagang. Kelas budak terdiri dari tawanan asing.

Bangsa Viking adalah bangsa yang menghargai perempuannya. Itu sudah menjadi budaya mereka yang dijunjung tinggi. Wanita-wanita Viking terampil dalam menjalankan rumah tangga dan pertanian sementara laki-laki mereka sedang pergi. Mereka bisa memilih suami mereka sendiri dan memutuskan perceraian jika mereka ingin. Sebagian besar menghabiskan sebagian hari memintal wol atau rami untuk pakaian. anak-anak Viking tidak hadir sekolah, tapi membantu di ladang atau di rumah. Banyak anak laki-laki mendampingi ayah mereka pada saat penyerbuan untuk membantu mereka ketika mendirikan pemukiman, sekaligus belajar menjadi seorang 'lelaki Viking'.

Seperti bangsa Yunani dan Mesir kuno, bangsa Viking juga memiliki dewa dan dewi berbeda. Odin adalah dewa para raja dan prajurit. Dewa utama lainnya termasuk Thor dan Frey. Prajurit Viking percaya bahwa mereka akan memiliki kehidupan baru di Valhalla jika mereka mati dalam pertempuran. Dewa dan dewi lainnya dikaitkan dengan kesuburan dan pertanian atau aspek lain dari kehidupan Viking.

Seperti Mesir kuno, orang-orang Viking dikuburkan dengan benda mereka yang mereka perlukan di akhirat. Pria kaya dan wanita mereka dikuburkan di kapal dengan semua itemnya kemudian dibakar. Lainnya mungkin terkubur di ruang bawah tanah. Agama bangsa Viking dipenuhi dengan cerita dan mitos. Untuk saat ini, cukup untuk mengetahui, bahwa agama memainkan peran yang dominan dalam kehidupan dan kematian pria dan wanita Viking.

Seorang prajurit Viking akan membawa tombak, perisai, kapak (untuk bertempur bukan buat nebang pohon), dan pedang. Mereka juga membawa sebuah pisau kecil yang disebut scramasax untuk pertempuran satu lawan satu. Senjata-senjata ini terbuat dari besi dan sering dihiasi dengan perak hias dan permata. Serangan Viking pertama yang tercatat terjadi di biara Lindisfarne, sebuah pulau kecil di lepas pantai utara Inggris. Setelah itu, Viking menjelajahi Selat Inggris dan Laut Utara, menjarah pemukiman tepi laut. Ketika mereka tumbuh lebih berani, mereka mendayung ke sungai-sungai besar seperti Sungai Rhein dan Seine untuk menyerang lebih lanjut. Mereka juga berlayar Timur dan menyerbu ke Rusia dan ada bukti mereka mencapai laut Hitam dan Laut Kaspia.

Selain mereka menyerang bangsa lain, mereka juga berperang satu sama lain yagn umumnya disebabkan karena persengketaan status tanah. Viking akan berlayar dari rumah pada musim semi, menjarah seluruhnya pada musim panas dan akhirnya berlayar pulang untuk menikmati penaklukan mereka pada musim dingin. Banyak daerah dengan cepat belajar untuk membayar upeti kepada Viking untuk menghindari serangan mereka yang mengerikan dan brutal.

Tentu saja, Viking tidak selalu mencuri untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mereka juga pedagang yang sangat baik dan memiliki banyak sumber daya untuk melakukan itu. Mereka berdagang dengan daerah-daerah pesisir dan jika mereka gagal berdagang, barulah opsi merampok mereka jalankan. Daerah utara sangat kaya dengan kayu dan kulit bulu binatang. Mereka memperdagangkan di semua wilayah yang sebelumnya telah mereka serang, kemudian mendirikan pusat pasar. Tentu saja, pertempuran membawa lebih dari kekayaan untuk prajurit - tindakan keberanian selama pertempuran merupakan syarat penghormatan. Semakin berani seorang prajurit dalam pertempuran, semakin dihormati ia dalam komunitas Viking.

Namun, semua perjalanan ini, perdagangan dan pendudukan, telah membawa Viking kepada keterampilan navigasi mereka dan membesarkan hati mereka untuk melangkah lebih jauh dalam mencari sumber-sumber baru. Viking menguasai Greenland dan Islandia. Leif Eriksson, putra Eric Red, dianggap sebagai orang Eropa pertama yang menginjakkan kaki di Amerika - Newfoundland di Kanada.


Teman Kami